Senin, 17 November 2025

Tiga Dusun, Dua Yang Dipilih: Kepengurusan Karang Taruna Plampang Cacat




   Oleh: Rofiq Sepriansyah, Proses pembentukan kepengurusan Karang Taruna Desa Plampang kembali memantik kritik tajam dari pemuda dusun Sejari. Dalam penyusunan struktur organisasi, hanya dua dusun Karya Mulya dan Karya Jaya yang diberi ruang untuk merekomendasikan perwakilan pemudanya. Sementara itu, Dusun Sejari secara mencolok tidak dilibatkan dan tidak dikordinasikan dalam bentuk apa pun.

    Fenomena ini menimbulkan dugaan serius bahwa proses pembentukan kepengurusan berjalan tidak transparan, tidak inklusif, dan cenderung mengabaikan prinsip keadilan representasi. Padahal, Karang Taruna merupakan organisasi sosial yang seharusnya menaungi seluruh pemuda desa tanpa terkecuali.

      Pemuda Sejari memiliki rekam jejak panjang dalam berbagai kegiatan sosial, budaya, hingga kerja-kerja kemasyarakatan. Namun, dalam proses penting yang menentukan arah gerak organisasi kepemudaan desa, mereka justru tidak mendapat panggilan musyawarah, tidak dimintai pendapat, dan tidak diberi ruang rekomendasi. Ini bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan bentuk pengabaian yang berpotensi melemahkan legitimasi kepengurusan.

    Kondisi ini memunculkan sejumlah pertanyaan mendasar:

1).Atas dasar apa dua dusun diberi prioritas sementara satu dusun dikesampingkan?

2).Siapa pihak yang menginisiasi proses selektif ini, dan untuk kepentingan siapa?

    Apakah mekanisme pembentukan sudah sesuai dengan prinsip Karang Taruna yang menekankan musyawarah, kebersamaan, dan keterbukaan?

    Ketidakhadiran Dusun Sejari dalam proses ini menandakan adanya kesenjangan perlakuan antarwilayah dalam satu desa. Jika dibiarkan, praktik seperti ini berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial dan menggerus kepercayaan pemuda terhadap institusi desa. Lebih jauh, kepengurusan yang terbentuk tanpa representasi lengkap akan sulit menjalankan program secara menyeluruh karena terdapat bagian masyarakat yang sejak awal merasa tidak diakui keberadaannya.

    Karang Taruna seharusnya menjadi wadah kolaboratif pemuda, bukan arena bagi kelompok tertentu untuk mengamankan posisi. Proses yang mengesampingkan salah satu dusun bukan hanya melemahkan organisasi itu sendiri, tetapi juga mencederai nilai-nilai demokratis yang mestinya dijunjung oleh desa.

    Oleh karena itu, penting bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi terbuka, serta mempertimbangkan peninjauan ulang terhadap komposisi kepengurusan agar seluruh pemuda termasuk dari Dusun Sejari dapat dilibatkan secara adil dan proporsional. Transparansi dan pemerataan representasi menjadi syarat mutlak jika Karang Taruna Desa Plampang ingin memperoleh kembali kepercayaan publik."pungkas rofiq"

    Jika keadilan representasi tidak ditegakkan, maka kepengurusan ini, betapapun resmi bentuknya, akan tetap dinilai cacat oleh publik sejak hari pertama ia dibentuk.

Sabtu, 27 September 2025

Ketika Dosen Pembimbing Tak Lagi Menghargai Mahasiswa: Krisis Respect di KKP Desa Landah 2025


Oleh : Rofiq Sepriansyah, Kuliah Kerja Partisipatif (KKP) yang dilaksanakan di Desa Landah tahun 2025 seharusnya menjadi ruang pembelajaran transformatif bagi mahasiswa. Kegiatan ini bukan hanya sekadar program akademik, tetapi juga wadah pengabdian, interaksi sosial, serta laboratorium nyata bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu pengetahuan di masyarakat. Dalam konteks tersebut, dosen pembimbing lapangan (DPL) memegang peran krusial: menjadi fasilitator, pengarah, sekaligus penilai objektif atas kerja mahasiswa.
    
    Namun, realitas di lapangan menunjukkan adanya ketidakselarasan antara ekspektasi dan implementasi. Beberapa mahasiswa mengeluhkan sikap dosen pembimbing lapangan yang kurang memberikan respect, terutama dalam hal penilaian. Penilaian yang semestinya berbasis pada kinerja, kontribusi, serta keterlibatan mahasiswa di masyarakat, terkadang justru terkesan subjektif, kurang transparan, bahkan minim apresiasi terhadap jerih payah mahasiswa.
    
    Secara ilmiah, fenomena ini dapat dipahami melalui perspektif etika akademik. Seorang dosen tidak hanya bertugas mengajar dan menilai, tetapi juga berkewajiban menumbuhkan iklim akademik yang sehat, adil, dan membangun. Ketika penilaian tidak didasarkan pada prinsip objektivitas, maka integritas akademik dipertaruhkan. Mahasiswa sebagai subjek pendidikan bukan sekadar "obyek nilai", melainkan insan pembelajar yang layak dihargai usaha, kreativitas, dan komitmennya.
Selain itu, hubungan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan KKP bersifat dialektis. Mahasiswa belajar dari masyarakat sekaligus menyumbangkan pengetahuan, sementara dosen seharusnya berperan sebagai jembatan akademik yang mendukung proses tersebut. Minimnya respect dari dosen pembimbing akan menciptakan jarak emosional, menurunkan motivasi, bahkan mengikis kepercayaan mahasiswa terhadap sistem pendidikan tinggi itu sendiri.
    
    Oleh karena itu, penting adanya refleksi kritis dari pihak kampus. Penilaian harus lebih transparan, berbasis indikator kinerja yang terukur, serta disertai komunikasi yang menghargai mahasiswa. KKP sejatinya adalah perjalanan akademik dan sosial yang menumbuhkan kepedulian, bukan sekadar ajang formalitas nilai. Dengan demikian, keberadaan dosen pembimbing lapangan akan benar-benar bermakna sebagai pendamping, bukan sekadar evaluator."pungkas rofiq"

Minggu, 01 Juni 2025

Membangunkan FKPPMS dari Tidur Panjangnya: Demi masa Depan Mahasiswa Kabupaten Sumbawa


   
  


 Oleh : Rofiq Sepriansyah, Forum Komunikasi Pemuda Pelajar Mahasiswa Sumbawa (FKPPMS) dasawarsa lalu merupakan wadah strategis yang menghimpun  dan memperkuat solidaritas antar mahasiswa asal kabupaten sumbawa yang menempuh pendidikan di kota mataram. FKPPMS bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang tumbuhnya ide, gagasan, serta upaya kolektif dalam memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) daerah melalui mahasiswa.

      Namun kini, FKPPMS tampaknya mati suri.  Aktivitasnya nyaris tak terdengar. Tidak ada agenda rutin yang berarti, tidak ada forum diskusi yang menggugah, apalagi gerakan advokatif yang menyentuh isu kedaerahan. FKPPMS seperti kehilangan arah dan visi. Kondisi yang krusial ini sangat di sayangkan mengingat mataram adalah titik strategis yang dimana banyak mahasiswa dari kabupaten sumbawa hadir dengan semangat perubahan. Namun demikian mereka akhirnya berjalan sendiri-sendiri karena tidak ada fasilitasi dan wadah tertinggi yang jelas untuk mereka. Lebih memprihatinkan, SDM mahasiswa kabupaten Sumbawa di mataram seperti terabaikan. Banyak di antara mereka yang memiliki kapasitas dan potensi yang luar biasa, namun tanpa pendampingan dan pembinaan serta ruang eksplorasi, akhirnya tidak berkembang secara optimal. FKPPMS seharusnya hadir untuk menjembatani kebutuhan itu - menjadi ruang edukatif dan progresif, bukan sekedar nama organisasi yang tinggal sejarah.

     Kepemimpinan Ketua Umum FKPPMS saat ini, saudari Salsabila Mustaan, seharusnya menjadi penggerak utama dalam membangkitkan kembali organisasi ini. Namun sayangnya, hingga kini belum ada gebrakan yang signifikan. "Organisasi terkesan stagnan di bawah kendalinya, Ketua bukan hanya persoalan jabatan, akan tetapi soal tanggung jawab moral terhadap mahasiswa dan masa depan kabupaten sumbawa- pungkas Rofiq."

      FKPPMS bukan milik segelintir orang, bukan semata-mata milik Ketua Umum. Ia milik bersama mahasiswa kabupaten sumbawa yang berharap akan adanya perubahan. Sudah saatnya organisasi ini di bangunkan kembali dari tidur panjangnya. Butuh keberanian, butuh kejujuran dan yang tak kala penting: butuh kemauan untuk melayani, bukan hanya memimpin.
                    

Selasa, 05 November 2024

DEMA Universitas Islam Negeri Mataram Sedang SAKITt!!!!

Sebagai bagian daripaguyuban mahasiswa di Universitas Islam Negeri Mataram, Kami menyambut baik setiap upaya untuk memperkaya kehidupan kampus dalam berbagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang mendukung keberagaman, baik itu dalam bidang seni,budaya, maupun sebagainya. Salah satunya rencana pendirian UKM Adat SASAMBO, bertujuan untuk melestarikan budaya yang ada di (NTB) katanya.

  Namun, kami merasa perlu menyampaikan keresahan, terkait proses pendirian UKM Adat SASAMBO yang di gagas oleh DEMA Universitas Islam Negeri Mataram. Lucunya Dewan Eksekutif Mahasiswa tanpa adanya kordinasi yang jelas dengan dua suku (Samawa,Mbojo). Kami percaya bahwa kordinasi yang baik adalah hal yang sangat penting dalam proses pembentukan UKM agar tidak terjadi hal-hal yang tidak pernah kita inginkan.

 sampai saat ini belum ada komunikasi yang jelas mengenai UKM SASAMBO. Karena apa, kedua suku merasa tidak di libatkan atau di kesampingkan dalam pembentukan UKM SASAMBO dapat menganggap bahwa tidak ada kesempatan yang adil bagi kita untuk berpartisipasi. karena pembentukan UKM yang mayoritas didominasi, SAMBO nya dikemanakan? Dema perlu mempertimbangkan hal ini dan tanggung  jawab!!!

  Jika pembentukan UKM SASAMBO tidak dilakukan melalui kordinasi yang melibatkan semua pihak yang seharusnya terwakili terutama dua suku yang merasa di pinggirkan, maka perlu di selesaikan terlebih dahulu.!!!
 TiDak Ada Angin Tidak ada Hujan Tiba-tiba Dema melahirkan UKM SASAMBO!!!
  
    

Senin, 15 April 2024

Peran Masyarakat Dalam Menyikapi Politik




 Kini pesta demokrasi telah tiba,katanya partai politik memilih para politisi untuk maju sebagai pemimpin atas dasar isi dompet. Bukan atas dasar kualitas dan integritas yang dimiliki. Maka, bahasa yang digunakan adalah seberapa tebal isi dompetmu. Bukan mempertanyakan seberapa berkualitas dirimu.

Para politisi yang diusung oleh partai politik pun rela mengeluarkan banyak dana dalam membiayai kegiatan kampanye.  Dalam logika bisnis, modal yang dikeluarkan tersebut harus kembali.

Padahal, besarnya gaji bulanan yang diterima ketika menduduki jabatan legislatif,belum tentu mampu mengembalikan modal yang dihabiskan ketika kampanye. Jalan pintas yang paling cepat dalam mengumpulkan modal yang habis ketika kampanye, yaitu dengan memuaskan nafsu korupsi.

Melihat praktik korupsi yang tumbuh subur,wabilkhusus di NTB, tentunya menimbulkan gagasan mengenai pembentukan lembaga. Ia mesti khusus membahas isu-isu terkait korupsi dan praktik-praktik curang para politisi, pejabat, dan cara mengatasi hal tersebut.

Mengingat bahwa rakyat adalah mayoritas bisu, perlu strategi untuk membangunkan rakyat dari keterdiaman. Membangun dengan pendekatan kasus menjadi salah satu strategi awal. Mencoba menanamkan pemahaman di dalam diri setiap masyarakat bahwa koruptor adalah pencuri uang rakyat.

Idealnya, harus ada suatu kelompok di dalam masyarakat yang menyalakan obor untuk menjadi salah satu penerang oknum-oknum kuasa politik dan batin pejabat dan rakyat. Namun begitu, penyakit masyarakat dan gelapnya aroma korupsi,juga politik dinasti yang terbalut dalam pola kehidupan yang pragmatis,dan wacana yang hegemonik, membuat hal itu tidak berakhir.

Memperjuangkan perubahan tentu memerlukan gagasan. Membangun gagasan adalah upaya mendekatkan asa yang akan dicapai. Namun demikian, gagasan tidak akan terwujud jika tidak ada tahapan-tahapan yang dapat dioprasionalkan. Karena dengan melaksanakan gagasan, cita-cita akan mudah dicapai.


Mengenai sekelumit permasalahan yang menjangkiti konstelasi politik di Sulawesi Barat, entah itu kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, juga mengenai permasalahan mutasi PNS, konflik kepentingan, konflik sosial antara pendukung A dan pendukung B ketika pemilu, black campaign, money politic. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, dari golongan manakah kelompok masyarakat yang ideal dalam menyalakan lilin untuk menjadi salah satu penerang relung-relung kuasa politik dan batin pejabat dan rakyat?


Menurut saya, kelompok ideal dalam menyalakan lilin perubahan bagi masyarakat adalah kelompok masyarakat yang akrab disapa agent of change, agent of control, kelompak masyarakat atau sebutan lain kelompok pemuda tentunya dituntut untuk menjawab sekelumit persoalan yang terjadi pada lingkungan sosialnya. Dilatih untuk peka dalam menanggapi kondisi sosial di sekitarnya. Menjadi motor penggerak dalam melakukan perubahan-perubahan.

Warga Dsn.Sejari Kec,Plampang Mengadakan Acara Di Bendungan

 






      Warga dusun sejari melakukan sholat Istisqa meminta hujan karena kemarau panjang yang melanda wilayah Sumbawa satu bulan ini,Kamis (28/12/ 2023)Pagi secara serentak.

         Warga mengadakan sholat istisqa di bendungan sejari 1,Dipimpin langsung oleh H.A.Karim Saad.Acara ini sudah menjadi tradisi nenek moyang kita dulu,acara ini juga dilakukan setiap tahun oleh warga sejari dan beberapa wilayah di Kab,Sumbawa.

      Saya mengatakan,sejatinya hujan merupakan kehendak Allah SWT.Jika Allah SWT tak mengizinkan butiran air turun dari langit,maka tidak ada hujan,"maka,cara yang paling logis adalah dengan cara mendekatkan diri kepada Allah SWT.

       Tidak turunnya hujan telah membuat kerugian bagi buruh tani dusun sejari,Karena belum bisa membajak sawah maupun menanam padi pada dasarnya sumber air didusun sejari masih sangat minim sehingga itu menjadi alasan warga dusun sejari.

       Karena itu,Tokoh-tokoh didalam dusun sejari mengajak seluruh masyarakat dusun sejari untuk meramaikan kegiatan sholat istisqa dengan tujuan adanya rahmat Allah SWT (Hujan). 

        Salah satu upaya yang dilakukan oleh warga dusun sejari mengadakan acara tersebut untuk dapat mempertahankan budaya-budaya yaitu dengan cara menumbuhkan kembali semangat warga dengan mengajak warga dusun sejari untuk selalu berpartisipasi dalam setiap kegiatan.


Tiga Dusun, Dua Yang Dipilih: Kepengurusan Karang Taruna Plampang Cacat

    Oleh: Rofiq Sepriansyah,   Proses pembentukan kepengurusan Karang Taruna Desa Plampang kembali memantik kritik tajam dari pemuda dusun S...