Kini pesta demokrasi telah tiba,katanya partai politik memilih para politisi untuk maju sebagai pemimpin atas dasar isi dompet. Bukan atas dasar kualitas dan integritas yang dimiliki. Maka, bahasa yang digunakan adalah seberapa tebal isi dompetmu. Bukan mempertanyakan seberapa berkualitas dirimu.
Para politisi yang diusung oleh partai politik pun rela mengeluarkan banyak dana dalam membiayai kegiatan kampanye. Dalam logika bisnis, modal yang dikeluarkan tersebut harus kembali.
Padahal, besarnya gaji bulanan yang diterima ketika menduduki jabatan legislatif,belum tentu mampu mengembalikan modal yang dihabiskan ketika kampanye. Jalan pintas yang paling cepat dalam mengumpulkan modal yang habis ketika kampanye, yaitu dengan memuaskan nafsu korupsi.
Melihat praktik korupsi yang tumbuh subur,wabilkhusus di NTB, tentunya menimbulkan gagasan mengenai pembentukan lembaga. Ia mesti khusus membahas isu-isu terkait korupsi dan praktik-praktik curang para politisi, pejabat, dan cara mengatasi hal tersebut.
Mengingat bahwa rakyat adalah mayoritas bisu, perlu strategi untuk membangunkan rakyat dari keterdiaman. Membangun dengan pendekatan kasus menjadi salah satu strategi awal. Mencoba menanamkan pemahaman di dalam diri setiap masyarakat bahwa koruptor adalah pencuri uang rakyat.
Idealnya, harus ada suatu kelompok di dalam masyarakat yang menyalakan obor untuk menjadi salah satu penerang oknum-oknum kuasa politik dan batin pejabat dan rakyat. Namun begitu, penyakit masyarakat dan gelapnya aroma korupsi,juga politik dinasti yang terbalut dalam pola kehidupan yang pragmatis,dan wacana yang hegemonik, membuat hal itu tidak berakhir.
Memperjuangkan perubahan tentu memerlukan gagasan. Membangun gagasan adalah upaya mendekatkan asa yang akan dicapai. Namun demikian, gagasan tidak akan terwujud jika tidak ada tahapan-tahapan yang dapat dioprasionalkan. Karena dengan melaksanakan gagasan, cita-cita akan mudah dicapai.
Mengenai sekelumit permasalahan yang menjangkiti konstelasi politik di Sulawesi Barat, entah itu kasus korupsi, kolusi, dan nepotisme, juga mengenai permasalahan mutasi PNS, konflik kepentingan, konflik sosial antara pendukung A dan pendukung B ketika pemilu, black campaign, money politic. Yang menjadi pertanyaan mendasar adalah, dari golongan manakah kelompok masyarakat yang ideal dalam menyalakan lilin untuk menjadi salah satu penerang relung-relung kuasa politik dan batin pejabat dan rakyat?
Menurut saya, kelompok ideal dalam menyalakan lilin perubahan bagi masyarakat adalah kelompok masyarakat yang akrab disapa agent of change, agent of control, kelompak masyarakat atau sebutan lain kelompok pemuda tentunya dituntut untuk menjawab sekelumit persoalan yang terjadi pada lingkungan sosialnya. Dilatih untuk peka dalam menanggapi kondisi sosial di sekitarnya. Menjadi motor penggerak dalam melakukan perubahan-perubahan.

.jpeg)